Tampilkan postingan dengan label product refiew. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label product refiew. Tampilkan semua postingan

Kindle Wireless Reading Device, Wi-Fi, 6" Display, Graphite - Latest Generation



Let's be honest -- you saw this one coming, didn't you? Today Amazon is introducing a new reading device for e-book aficionados dubbed simply... the Kindle. The new handheld -- slated to be released on August 27th -- is 21 percent smaller and 15 percent lighter than the previous model, has a 20 percent faster refresh rate on its E Ink (yep, still E Ink) screen, and will now come in two colors (graphite, like its big brother the DX, and the original white). In addition to the color changes, there will be two radio configurations available: a $139 WiFi only version, and a $189 3G version (utilizing AT&T's network, just like the last model). The screen will remain the same 6-inch size as the last two Kindles, though the company claims page turns are faster and contrast is improved. The internal storage on the device has been cranked to 4GB, and the battery life is now rated at a month with no wireless, and 10 days with wireless switched on. The company also announced plans for a UK-localized version at £109 and £149, respectively, as well as a UK e-book store.

Along with the big changes, there have been minor tweaks as well -- the keyboard and five-way controls have been streamlined and altered slightly. The rocker is now more compact and flush with the device, and the side buttons have been modified in length to emphasize the forward paddles, while the back buttons have been downsized. Software wise, there are some interesting new features, the most notable being the inclusion of an "experimental" Webkit-based browser. If you're expecting future iterations to go even bolder with their multimedia capabilities, we kindly direct you to some choice quotes by Amazon's Jeff Bezos, care of WSJ: "For the vast majority of books, adding video and animation is not going to be helpful. It is distracting rather than enhancing. You are not going to improve Hemingway by adding video snippets," adding later, "there are going to be 100 companies making LCD [screen] tablets... why would we want to be 101? I like building a purpose-built reading device. I think that is where we can make a real contribution."

We had a chance to play with the device for a short while during a meeting with the company, and we can report that the Kindle is still very much the reading device you know and love (or hate, depending on your preferences). The build quality and materials used did seem slightly more polished than the previous version, and we really liked the new, more subtle rocker. We can also attest to screen refreshes and overall navigation feeling noticeably more responsive and snappy compared with the previous generation. Amazon was showing off a jacket accessory which will be made available at launch that includes a small, pull-out light for late-night reading sessions. We're sure it will please a lot of folks eager to keep their partners undisturbed while they tear through The Girl with the Dragon Tattoo. We'll have a full review as soon as we can get our hands on the device, but for now, check out all the details in the video and PR after the break, and feast your eyes on the handful of press shots in the gallery below.
READ MORE - Kindle Wireless Reading Device, Wi-Fi, 6" Display, Graphite - Latest Generation

Thee Celup.....apakah benar Mengandung Bahaya

Apakah benar teh celup membahayakan kesehatan? Mengapa demikian? Ternyata penyebabnya lebih pada kemasannya, kantong kertas kecil berserat renggang yang ternyata mengandung chlorine, yang antara lain bisa menyebabkan kemandulan, keterbelakangan mental dan kanker! Untuk dapat lebih memahaminya, kita akan membahas perihal teh celup ini secara garis besar saja.
⁠
⁠Di pasaran, ada 3 jenis teh yang biasa dijual; teh celup, teh daun atau teh serbuk seduh, dan teh bubuk instan. Masing-masing jenis teh bisa dipilih sesuai kebutuhan. Sebelum mengkonsumsinya, pastikan Tanggal Kedaluarsanya ! Teh Celup Bubuk teh yang dibungkus sejenis kertas berpori-pori halus yang tahan panas. Bagi Anda penggemar teh, pasti tahu teh celup.
⁠
⁠Sangat modern dan praktis. Pastinya Anda sering minum teh karena paham akan manfaat teh bagi tubuh. Misalnya saja, teh merah untuk relaksasi, teh hitam untuk pencernaan, atau teh hijau untuk melangsingkan tubuh. Saat hendak minum teh, apakah Anda terbiasa mencelupkan kantong teh celup berlama-lama? Jika ya, hati-hati. Mungkin Anda senang mencelupkan teh lama-lama karena berpikir semakin lama kantong teh dicelupkan dalam air panas, makin banyak khasiat teh tertinggal dalam minuman teh karena teh semakin pekat.
⁠
⁠Asal mula teh celup
⁠
⁠Anda minum teh? Teh celup atau teh tubruk? Sudah barang tentu dengan alasan kepraktisan, banyak orang yang lebih memilih teh celup.
⁠
⁠Secara tidak sengaja teh celup ditemukan oleh Thomas Sullivan, seorang pedagang teh dan kopi dari New York, dia mengirim sample teh dalam kantong sutra kecil kepada para pelanggannya. Dia menggunakan kantong sutra karena alasan ekonomis, kalau menggunakan kaleng, selain biaya pembuatannya lebih mahal, teh yang dikemas juga harus lebih banyak.
⁠
⁠Pada awalnya para pelanggan Thomas bingung dengan kemasan baru ini. Mereka menganggap kemasan ini sama saja dengan teh yang dimasukkan dalam saringan metal, mereka langsung melemparkan begitu saja kemasan tersebut ke dalam air panas. Baru kemudian mereka menyadari bahwa ternyata kemasan tersebut cukup praktis untuk menyeduh teh secara langsung. Mereka menganggap ini lebih praktis karena tidak perlu membersihkan saringan teh atau teko. Selesai diseduh, kemasan berikut tehnya bisa langsung dibuang. Lama-kelamaan permintaan sample teh dalam kemasan makin banyak, dan pada akhirnya Thomas Sullivan menyadari bahwa ini bisa menjadi dagangan yang menguntungkan. Teh celupnya mulai dipasarkan secara komersial pada tahun 1904, dan dengan cepat popularitasnya menyebar ke seluruh penjuru dunia.
⁠
⁠Akan tetapi, disadari pula, kemasan tersebut membawa problem sendiri: Kualitas aroma dan rasa. Daun teh, membutuhkan ruangan untuk mengembang, sehingga bisa mengeluarkan aroma dan rasa yang optimal. Solusinya adalah membuat kemasan lebih besar, dan daun teh yang digunakan ukurannya yang paling kecil. Ukuran ini dikenal dengan nama Fanning dan Dust yang merupakan tingkat terendah dari kualifikasi kualitas teh. Ukuran yang kecil menyebabkan zat tannin lebih cepat keluar, sehingga menimbulkan rasa pahit.
⁠
⁠Bagaimanapun, aroma dan rasa terbaik akan keluar dari hasil seduhan loose tea atau teh tubruk. Jadi kalau anda memang ingin meningkatkan apresiasi anda terhadap teh, mulailah beralih ke loose tea. Dari segi kepraktisan, memang lebih repot. Tetapi ritual penyeduhan teh merupakan bagian dari seni teh itu sendiri. Dan jangan lupa untuk tidak membiarkan ampas teh tetap di dalam teko atau cangkir Anda.
⁠
⁠Namun seiring perkembangan zaman, kantong teh kemudian berganti, dari sutera ke kertas, inilah yang kemudian menimbulkan masalah.
⁠
⁠Teh celup masa sekarang
⁠
⁠Teh celup terdiri dari ramuan teh, yang kemudian untuk menambah keharumannya, di Indonesia biasanya dicampur melati, yang kesemuanya dikemas dalam kantong kecil.
⁠
⁠Tehnya sendiri tidak berbahaya, yang berbahaya adalah kantong kertas kemasannya. Kantong teh terbuat dari kertas kecil berserat renggang, –seperti sudah disebutkan di depan, pada masa awalnya kantongnya terbuat dari sutera atau nylon– yang diisi dengan daun teh, agar dapat menyeduh teh dengan hemat dan praktis. Daun tehnya tetap berada dalam kantong ketika teh diseduh dengan air panas, membuatnya sangat mudah mengeluarkan dan membuang daun teh yang sudah diseduh itu, menyeduh teh menjadi semakin mudah karena kantung itu diikatkan pada selembar benang dengan label kertas di ujung yang lain. Jadi benang ini juga berfungsi sebagai alat untuk mencelupkan daun teh dan mengangkatnya.
⁠
⁠Bahaya Chlorine
⁠
⁠Pada umumnya kertas dibuat dari pulp (bubur kertas), yang terbuat dari bahan kayu, bubur ini berwarna coklat tua, untuk membuat serat pulp itu berwarna putih, digunakan sejenis bahan kimia pemutih yang terbuat dari senyawa chlorine yang sangat pekat. Sayang dalam prosesnya, chlorine ini tetap tertinggal dalam produk kertas karena tidak dilakukan penetralan karena biayanya sangat tinggi. Kertas semacam inilah yang kemudian digunakan sebagai kantong teh celup.
⁠
⁠Hindari mencelupkan kantong teh terlalu lama, karena Anda tentu berpikir bahwa semakin lama Anda merendam teh celup itu dalam air panas, semakin banyak sari teh yang tertinggal dalam cangkir Anda. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Akan semakin banyak kandungan chlorine di kantong teh celup yang larut dalam teh Anda, apa lagi kalau Anda merendamnya lebih dari 3 menit.
⁠
⁠Dalam industri kertas, chlorine memang biasa digunakan sebagai bahan insektisida, disinfektan, pengawet, pembersih dan pemutih kertas, yang kemudian digunakan untuk membuat tissue, popok, kain dan sebagainya; juga sumpit kayu sekali pakai, oleh sebab itu di China, sumpit jenis ini dilarang digunakan. Kenapa? Berdasarkan penelitian, diduga ada kaitan antara konsumsi chlorine dalam tubuh dengan kemandulan pria, lahir cacat, keterbelakangan mental serta kanker.
⁠
⁠I. Kandungan zat klorin di kantong kertas teh celup
⁠
⁠Kandungan zat klorin di kantong kertas teh celup akan larut. Apalagi jika Anda mencelupkan kantong teh lebih dari 3 - 5 menit. Klorin atau chlorine, zat kimia yang lazim digunakan dalam industri kertas. Fungsinya, disinfektan kertas, sehingga kertas bebas dari bakteri pembusuk dan tahan lama. Selain itu, kertas dengan klorin memang tampak lebih bersih. Karena bersifat disinfektan, klorin dalam jumlah besar tentu berbahaya. Tak jauh beda dari racun serangga. Banyak penelitian mencurigai kaitan antara asupan klorin dalam tubuh manusia dengan kemandulan pada pria, bayi lahir cacat, mental terbelakang, dan kanker.
⁠
⁠Nah, mulai sekarang, jangan biarkan teh celup Anda tercelup lebih dari 5 menit. Atau, kembali ke cara yang sedikit repot: Gunakan teh bubuk. Minumlah teh, bukan klorin…
⁠
⁠II. (Penelitian)
⁠
⁠Kebanyakan orang Indonesia (terutama Jawa) kalo minum teh malah sebenarnya minum gula, karena banyakan gulanya daripada tehnya. Lebih tepatnya, minum gula campur teh, campur susu, atau kopi .. sekarang ketambahan minum gula campur teh & chlorine lagi. Tapi saya percaya, yg terakhir ini masih lebih banyak sari teh-nya daripada chlorine-nya.
⁠
⁠Berarti ada chlorine-nya ya di kertas teh celup …
⁠
⁠Untuk memuaskan keingintahuan, saya coba lakukan test hari ini, di lab saya. Hasilnya : Untuk sample 100 ml (seukuran segelas cangkir teh), dengan air aqua diambil dari dispenser dengan panas (70 - 80oC), kemudian teh celup merk “X” diambil tehnya, kertas pembungkus dicelupkan ke sample selama 10 menit, untuk beberapa sample didapat hasil berkisar 0.04 - 1.10 mg/L. Air Aqua asalnya sendiri chlorine content-nya tidak terdeteksi.
⁠
⁠Chlorine tergolong powerful oxidizing agent, bersifat toxic dan corrosive.
⁠
⁠Biasa digunakan dalam proses bleaching (contoh di pabrik kertas), manufacturing syntetic rubber & plastic, serta desinfektan untuk pemurnian air.
⁠
⁠Di Permenkes (no …), utk persyaratan kualitas air minum, setahu saya, tidak disebutkan nilai batas keberadaan chlorine (apa berarti tidak diperbolehkan?). Tapi untuk Kualitas Air Kolam Renang, Permenkes masih diperbolehkan dengan batasan antara 0.2 - 0.5 mg/L (tolong dikoreksi kalo saya keliru). Demikian juga WHO, setahu saya batasannya max. 0.5 mg/L.
⁠
⁠Kadar klorin di dalam kemasan teh yang cuma 200 ml, bisa jadi lebih tinggi dibandingkan dengan klorin dipengolahan PDAM yang sekian ribu kubik karena konsentras nya merupakan fungsi dari volume mG/Liter. Jadi jangan dilihat volume total, tapi dalam tiap liternya.”
⁠
⁠III. Tanggapan LSM
⁠
⁠Makanya industri ini mendapat serangan hebat dari LSM lingkungan karena hal di atas, di samping juga masalah kehutanan. Kertas terbuat dari bubur pulp yang berwarna coklat tua kehitaman. Agar serat berwarna putih, diperlukan sejenis bahan pengelantang (sejenis rinso/baycline) senyawa chlorine yang kekuatan sangat keras sekali!
⁠
⁠Kertas sama dengan kain, karena memiliki serat. Kalau Anda mau uji benar apa tidaknya, silahkan coba nanti malam bawa tissue ke Studio East, lihatlah tissue akan mengeluarkan cahaya saat kena sinar ultraviolet dari lampu disco!
⁠
⁠Berarti masih mengandung chlorine tinggi. Kalau di negara maju, produk ini harus melakukan proses neutralization dgn biaya cukup mahal agar terbebas dari chlorine dan dapet label kesehatan. Tissue atau kertas makanan dari negera maju yang dapat label Depkes-nya tidak bakalan mengeluarkan cahaya tersebut saat kena UV. Kertas rokok sama saja, bahkan ada calsium carbonat agar daya bakarnya sama dengan tembakau dan akan terurai jadi CO saat dibakar. Di Indonesia tidak ada yang kontrol, jadi harap berhati-hati.
⁠
⁠Jadi apa jalan keluarnya?
⁠
⁠Yang pertama, jangan terlalu lama merendam teh celup dalam air panas, jangan lebih dari 3 menit.
⁠
⁠Yang kedua, hindari penggunaan teh celup, sebagai gantinya, kembali seperti dulu, dengan menggunakan teh tubruk, atau teh teko, kalau mau lebih nikmat lagi, lakukan ritual minum teh seperti di China, Korea atau Jepang, ini bisa menenangkan dan meningkatkan rasa hormat kepada orang lain, karena pada intinya, ritual minum teh adalah penghormatan kepada orang yang dilayani, sekaligus memberikan kehormatan kepada orang yang diberi kesempatan melayani, dengan menuangkan teh ke mangkuk rekan di hadapannya.
⁠
⁠Lindungi keluarga Anda dari gangguan kesehatan di masa depan. Hindari teh celup atau produk lain yang mengandung chlorine.
READ MORE - Thee Celup.....apakah benar Mengandung Bahaya

Nokia 6255i Cell Phone

Nokia continues to provide a high quality and much desired product in their cell phone offerings and their 6255i flip top model does not disappoint. If you want a cell phone that is lightweight, attractive, and comes with scads of features, then this baby is for you.

Amongst flip phones, the Nokia 6255i is certain to be noticed by cell phone afficionados. No bare bones model, the 6255i comes loaded with the following standard features:

# Camera with flash and digital zoom

# Video recorder

# Streaming audio and video

# MP3 player

# Bluetooth wireless connectivity

# Voice dialing


Oh, yeah, the 6255i can also be successfully used to talk with someone too! This is almost an afterthought when you consider its terrific features.

Because of its popularity, no less than twelve service providers have signed on to sell this 4.4 oz wonder. Therefore, your choices of carriers are excellent; shop around and compare the best plans.

I have seen the 6255i offered for as low as $49 after rebates when a two year plan is purchased. Not bad when you consider that the model retails for as much as $299 when purchased separately. You may be able to find an even better offer when shopping online.

Other leading Nokia flip top models worth a look include the 6170 featuring a camera, video, and voice capabilities; and the 7270 featuring GSM capabilities. In all, Nokia remains a formidable competitor in the ever growing cell phone marketplace and the 6255i is a strong entrant.
READ MORE - Nokia 6255i Cell Phone
 
© 2009 Layanan Online Indonesia Bisa | Powered by Blogger | Built on the Blogger Template Valid X/HTML (Just Home Page) | Design: Choen | PageNav: Abu Farhan